Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa saja level prioritas saya?

Level Prioritas

Menentukan level prioritas pada diri saya

Mengapa saya perlu menentukan level prioritas?

Riuhnya berbagai aktivitas dan rutinitas dalam perjalanan. Dan serba cepatnya pergerakan demi pergerakan. Menjadikan begitu acak dalam menentukan sikap, dalam menentukan langkah, dan bagaimana memutuskan hal apa yang terlebih dahulu perlu dilakukan. Suatu penentuan itu akan sangat terbantu ketika saya memiliki acuan level prioritas. Hal ini saya lakukan (secara tidak sadar) mungkin semenjak saya masih sekolah juga menuju jenjang akan kuliah. Salah satu keputusan saya berdasarkan dari level prioritas saya, yaitu “Keluarga”. Jika saya tidak memiliki skala level prioritas, kemungkinan saya sedikit gamang menentukan pemilihan keputusan.

Dalam penentuan level prioritas, setiap orang tentu akan berbeda - beda tidak selalu sama. Saya, kamu dan kalian belum tentu sama. Bergantung kepada apa yang menjadi esensi dalam setiap diri masing-masing dan juga prosesnya ketika itu. Ketika ada yang memiliki prioritas tidak sama dengan kita, tidak menjadi masalah juga. Tidak perlu kita bandingkan dengan skala prioritas kita. Tidak ada yang salah jika skala nya A terlebih dulu baru B, dan juga tidak kemudian merasa paling benar dengan skala prioritas jika B lebih dulu dari A. 

Layaknya sebuah Proyek Pembangunan Gedung atau Pembangunan Jalan. Dalam proses tersebut tentu ada skala prioritas mana yang didahulukan, dari pekerjaan mana. Belum tentu sama antara satu proyek dengan proyek yang lain, sebab memang kondisinya berbeda. Apa lagi ini manusia, lebih kompleks. Jadi memang level prirotas itu tidak bisa disamaratakan.

Berikut diantaranya adalah level prioritas pada diri saya :

1. Diri saya sendiri (kesehatan diri)

Sebelum kepada hal lain, beberapa waktu terakhir saat ini saya mulai menyadari bahwa diri sendiri adalah level utama prioritas saya. Saya harus sehat, secara kondisi fisik juga pun secara mental - psikologis. Sebab jika saya tidak sehat, maka saya tidak akan dapat beraktivitas - berkarya hal lain lagi. Melanjutkan hal ke depan tentu tidak mudah dalam kondisi tidak sehat.

Menengok kedalam diri, menanyakan kepada diri “Bagaimana kondisi kamu, kondisi iman, kondisi jiwa, kondisi hati dan kondisi fisik ? ” Dulu sering terlewat memastikan diri sendiri baik - baik saja, bahkan mungkin sampai saat ini masih saja demikian. Namun setidaknya sudah tidak separah dulu. Apapun yang akan dilakukan, atau yang sedang dilakukan, pastikan kondisi diri sendiri bagaimana. Yang mengetahui hanyalah diri sendiri. Bukan sesiapa, bukan orang lain. Orang lain sebatas sesekali menjadi pengingat diri kita. Itupun kadang tepat, kadang juga tidak.

2. Keluarga

Keluarga bagi saya masuk skala prioritas utama setelah diri saya sendiri. Alasan saya mengapa keluarga adalah prioritas utama setelah diri saya sendiri adalah, sebab merekalah yang paling dekat dengan saya. Yang mendukung segalanya ke depan dan kasih sayang serta kerelaan mereka kepada saya begitu sangat berarti. Khususnya keluarga disini adalah Ibu. Kemudian keluarga kecil saya. Di sana ada anak - anak saya dan suami. Juga demikian Ibu dan ayah mertua juga kakak kandung, pun juga ipar. 

Doa dan dukungan keluarga kepada saya sangat berdampak terhadap segala proses dan aktivitas saya dalam menjalani menuju masa depan. Ketika dukungan dari keluarga surut, ketika itu entah mengapa surutlah juga semua semangat dalam perjalanan. 

Demikianlah kemudian keluarga menjadi prioritas utama saya setelah diri saya sendiri.

3. Berkarya atau Pekerjaan utama

Skala Prioritas berikutnya adalah berkarya terhadap pekerjaan utama, ada komitmen disini. Terdapat kesepakatan kerjasama dalam sebuah (legalitas) organisasi perusahaan. Ya, saat ini saya sebagai seorang kuli di sebuah perusahaan swasta, disinilah saya berkarya dan beraktivitas setiap hari (kerja) dalam mengisi proses perjalanan usia saya, yang mungkin entah sampai kapan, apakah hingga paripurna batas usia di perusahaan ini ataukah mungkin saya entah berapa hari, bulan dan sekian tahun kedepan disini, atau kah mungkin usia saya tak mencapai hingga paripurna disini, usia saya telah habis, ~sudah tiada dan usai sebelum paripurna. 

Berkarya yang jika tak dimaknai, hanyalah sekedar keberlaluan waktu, keberlaluan langkah, keberlaluan obrolan, keberlaluan amarah dan keberlaluan energi yang tersia. Sering tidak sadar akan aktivitas harian, sedemikian seringnya melakukan aktivitas harian, kemudian terlewat untuk merenung dan memaknai. Sebab memang dianggap sudah biasa melakukan hal - hal harian yang nampak seperti biasa saja. 

Sesekali perlu untuk berjeda meluangkan ruang untuk memaknai rutinitas berkarya dan juga kembali merenungi tujuan, apakah tujuan personal pun juga tujuan organisasi. Jeda dan perenungan ini perlu, karena sebagai charging diri untuk dapat terus lebih jelas dalam melangkah kedepan. Apakah kita mengalir dan ada tujuan ataukah terbawa arus, begitu saja~?
 

4. Belajar, membaca dan menulis

Skala prioritas ke-4 saya, yaitu belajar, membaca dan menulis. Belajar dalam artian segala jenis hal yang menjadikan suatu pembelajaran, pandangan baru dan menjadikan diri untuk terus tumbuh. Menjadi diri pada hari ini dengan sedikit saja yang memiliki nilai makna lebih-meski pertumbuhan tidak signifikan / sangat minimal sekali dari hari sebelumnya. Pertumbuhan diri ini begitu berarti, dengan adanya pembelajaran - pembelajaran. Belajar secara formal atau juga non formal.

Membaca juga termasuk pada bagian level prioritas pada diri saya, sebab membaca salah satu bagian yang menjadikan saya dapat bertumbuh, tidak menetap seperti adanya begitu saja. Dengan membaca, saya seolah traveling, berjalan - jalan ke sana kemari, seolah mengikuti seminar - seminar (mahal) dan juga dengan membaca, saya banyak mendapatkan pandangan baru, yang tak melulu selalu itu dan begitu saja.

Menulis, ini juga termasuk menjadi skala prioritas. Mengapa? Karena, dengan menulis secara tidak langsung saya dapat merangkum dan menyematkan jejak (yang mungkin engga penting ya jejak diri saya) hanya saja bagi saya sekecil apapun pengalaman yang saya alami, saya ingin berbagi pengalaman (enak atau engga enak) supaya setidaknya kelak tidak mendapatkan hal yang tidak baik, yang tidak mengenakkan. Dengan menulis, jejak pengalaman dapat kita tinggalkan dan bersama - sama belajar pemaknaan akan proses dari pengalaman tersebut.

5. Berkarya (setelah karya utama) ; komunitas, sosial - lingkungan yang bermanfaat bagi sesama

Masih masuk skala prioritas dalam menjalani aktivitas hidup. Prioritas ke-5 adalah berakarya yang lebih cenderung kepada hal - hal terkait dengan sosial - lingkungan dan mungkin ada komunitas atau apa saja yang diikuti selain dari berkarya (utama) yang telah tersebut tadi sebelumnya. Prioritas namun ke-5, ya dalam hal ini memang tidak mudah untuk kemudian supaya aktivitas ini terpenuhi sebagaimana komitmen dengan lingkungan / komunitas terwujudkan dengan baik. Sebab dibilang tidak penting, ya penting juga. Hanya saja memang bukan prioritas paling utama. Skala nya agak kesekian saja.

Memang kedepannya harus disampaikan-terbuka bahwa semua ada skalanya, bukan tidak penting. Hanya saja ada yang lebih utama. Setelah ke-5 ini apa lagi ya? Bagi saya tidak ada lagi. Artinya diluar itu semua, kemudian memang bukan prioritas lagi.



 

Posting Komentar untuk "Apa saja level prioritas saya?"