TR

TR

Minggu, 28 Oktober 2012

Sabtu, 27 Oktober 2012

Terus belajar yaa

Jangan terlena dengan apa yang sudah kita bisa,

Haddddeeeh padahal sama sekali belum seberapaaaaa nyaaaa,

Banyak banget yang harus dipelajari


\(^_^)/

Minggu, 21 Oktober 2012

Tenang, yang tenang, yang tenang,__

Memang teramat berat kali ini begitu aku rasa, :'(

Ya Allah, cukupkan hanya Engkau bagiku, dan hanya kepadaMu aku memohon perlindungan serta ampunan, hanya kepadaMu aku memohon dan meminta,

Masih ingatkah saat segala permasalahan silih berganti hadir, dan apakah masih ingat apa yang dirasakan,
Kala Allah senantiasa membimbing tiada henti terus memberikan petunjuk,

Bangkit dan terus berjuang,
ya aku harus seperti itu, semoga kekuatan senantiasa tak bosannya Dia beri untukku,
Tenangkan hati, tenangkan jiwa, Dia ada dan Dia sayang sama semua hambaNya
Percayalah,

Allah, terimakasih untuk semua nya, kebahagiaan yang tak henti pun Engkau beri,
Pada suatu titik kembali aku merenungkan hakikat perjalanan ku lagi
Begitu indah Kau atur segala perjalanan ini, dan sesungguhnya tak perlulah aku khawatirkan akan perjalanan ini semua, padahal Engkau telah begitu jauh lebih Mengetahui akan semuanya,

Engkau tahu akan sepi ku, Engkau Maha tahu akan segala rasa lelah ini
Engkau jauh lebih Memahami akan segala kelemahan aku,
Aku dalam sendiri ku, aku dalam ketidak mampuan ku tanpa teman hidup dan teman berbagi
Aku tidak ingin Rabb berbagi dengan sembarangan orang, apa lagi laki-laki

Aku ngga perlu khawatir dengan segala yang aku butuhkan, karena Engkau jauh lebih memahami itu ya Ya Allah, 
Semua akan hadir dalam waktu yang tepat yag telah Engkau sediakan,
__tapi terus terang aku sepi banget ya Allah :'( _SuNgguh,,
ngga apa kan aku curhat__

Memang harus bersabar, semoga kesabaran ini perlahan dapat menggerus dosa-dosaku,

Tenang, yang tenang, yang tenang ya,,,,

Ngga perlu ada yang dikhawatirkan, karena perjalanan inipun telah dirancang sebaik mungkin oleh Sang Pemilik Hati, tetap senyum, tenang, dinikmati, jangan melewatkan waktu tanpa kehadiranNya, yakinlah Dia _ADA_



Jumat, 19 Oktober 2012

Lagu ini.... :')

d'p@s'4 - Tahukah Engkau Kini

Sanggupkah ku bertahan disini
Melewati hari tanpa dirimu
Sanggupkah kuberdiri disini jauh dari hidupmu
 Mungkinkah aku harus berlari
Mengejar bintang - bintang yang lain
Mungkinkah kuharus tetap berdiri sendiri disini

Tak ada yang bisa menggantimu
Aku harus tetap berdiri disini

Tahukah engkau kini
Aku disini
Merindukan dirimu dihatiku
Tak pernah ada yang lain disisiku dihatiku seutuhnya
Tahukah engkau kini
Aku bahagia
Mengingat akan dirimu disampingmu
Tak akan pernah terganti
dirimu, cintamu, selamanya

Senin, 15 Oktober 2012

:'( Sepi_____

SEPI
Ngga ada temen
Ngga enak
Sendirian
Sepi banget begini ya
SUWUNG jerene

aku membutuhkan sesuatuuu saja ya Allah _ yang membuat tidak merasa SEPI_ 
aku dalam ketidaksanggupan ku sebagai makhluk
:'(

kediriiiiii

aku pengen nonton jaranaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
makan pecel kediri
semua tentang kediri

(-____-)'

Minggu, 14 Oktober 2012

;-D

Tak perlu lelah untuk menjalani hidup, karena hidup akan terus berjalan tanpa peduli kita lelah atau kita menikmatinya,


Menikmati hidup dengan penuh kerendahan hati ___ hanya itu yang pantas untuk dilakukan

Alhamdulillah :-)

Sabtu, 13 Oktober 2012

tenangkanlah hatimu



http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/tenangkanlah-hatimu.html




Tenangkanlah Hatimu

Kategori: Tazkiyatun Nufus
27 Komentar // 20 Mei 2012
Prolog
Roda kehidupan terus menggelinding. Banyak cerita dan episode yang dilewati pada setiap putarannya. Ada sedih, ada senang. Ada derita, ada bahagia. Ada suka, ada duka. Ada kesempitan, ada keluasan. Ada kesulitan, dan ada kemudahan. Tidak ada manusia yang tidak melewatinya. Hanya kadarnya saja yang mungkin tidak selalu sama. Maka, situasi apapun yang tengah engkau jalani saat ini, tenangkanlah hatimu ..
Manusia bukan pemilik kehidupan. Tidak ada manusia yang selalu berhasil meraih keinginannya. Hari ini bersorak merayakan kesuksesan, esok lusa bisa jadi menangis meratapi kegagalan. Saat ini bertemu, tidak lama kemudian berpisah. Detik ini bangga dengan apa yang dimilikinya, detik berikutnya sedih karena kehilangannya. Maka, episode apapun yang sedang engkau lalui pada detik ini, tenangkanlah hatimu ..
Cerita tidak selalu sama. Episode terus berubah. Berganti dari satu situasi kepada situasi yang lain. Berbolak-balik. Bertukar-tukar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang maju, kadang mundur. Itulah kehidupan. Namun, satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah pada kita; yaitu, hati yang selalu tenang dan tetap teguh dalam kebenaran …
Saudaraku, ketenangan sangat kita butuhkan dalam menghadapi segala situasi dalam hidup ini. Terutama dalam situasi sulit dan ditimpa musibah. Jika hati dalam kondisi tenang, maka buahnya lisan dan anggota badan pun akan tenang. Tindakan akan tetap pada jalur yang dibenarkan dan jauh dari sikap membahayakan. Kata-kata akan tetap hikmah dan tidak keluar dari kesantunan, sesulit dan separah apa pun situasi yang sedang kita hadapi. Dan dengan itu lah kemudian –insya Allah- kita akan meraih keuntungan.
Ketenangan Milik Orang yang Beriman
Ketenangan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Tentang hal ini Allah berfirman:
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)
Syaikh Abdurrahman As-Si’dy rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan tentang karunia-Nya atas orang-orang yang beriman dengan diturunkan kepada hati mereka sakinah. Ia adalah ketenangan dan keteguhan dalam kondisi terhimpit cobaan dan kesulitan yang menggoyahkan  hati, mengganggu pikiran dan melemahkan jiwa. Maka diantara nikmat Allah atas orang-orang yang beriman dalam situasi ini adalah, Allah meneguhkan dan menguatkan hati mereka, agar mereka senantiasa dapat menghadapi kondisi ini dengan jiwa yang tenang dan hati yang teguh, sehingga mereka tetap mampu menunaikan perintah Allah dalam kondisi sulit seperti ini pun. Maka bertambahlah keimanan mereka, semakin sempurnalah keteguhan mereka.” (Taisir al Karim: 791)
ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)
Senjata Orang Beriman
Jiwa yang tenang dan hati yang teguh adalah senjata orang-orang shaleh dari sejak dahulu dalam menghadapi kondisi sulit yang mereka temui dalam kehidupan mereka.
Ashabul Kahfi adalah diantaranya. Saat mereka mengumandangkan kebenaran tauhid dan orang-orang pun berusaha untuk menyakiti mereka, sehingga mereka terusir dari tempat mereka dengan meninggalkan keluarga dan kenyamanan hidup yang sedang mereka nikmati, serta tinggal di gua tanpa makanan dan minuman, ketenangan dan keteguhanlah yang membuat mereka mampu bertahan. Allah berfirman tentang mereka,
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al Kahfi [18]: 14)
Dalam perjalanan dakwah dan jihad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingat kisah perjalanan hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya yang mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika mereka berdua masuk ke dalam gua, berlindung dari kejaran orang-orang musyrik yang saat itu tengah dalam kemarahan yang memuncak dan dengan pedang-pedang yang terhunus, hingga Abu Bakar berkata, “Jika salah satu mereka menundukkan pandangannya ke arah kedua sandalnya, niscaya ia akan melihat kita.” Dalam kondisi genting itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh ketenangan berkata, “Bagaimana menurutmu tentang dua orang, yang Allah ketiganya.” (Lihat Shahîh al Bukhâri no: 3653, Shahîh Muslim no: 2381)
Allah berfirman:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.” (QS. Al Taubah [9]: 40)
Kisah lain yang sangat menakjubkan adalah kisah pada hari perang badar. Musuh dalam kondisi sangat kuat dan digdaya, dengan persenjataan yang cukup lengkap di depan mata, menghadapi tentara Allah yang sedikit, persenjataan kurang dan tanpa persiapan untuk berperang. Akan tetapi ketenangan bersemayam dalam hati-hati mereka. Maka Allah memenangkan mereka dengan kemenangan yang jelas.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, “Oleh karena itu, Allah mengabarkan tentang turunnya ketenangan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman dalam situasi-situasi sulit.” (Madâriju al Sâlikîn: 4/392 cet. Dâr al Thîbah)
Meraih Ketenangan
Jika demikian penting ketenangan dalam hidup kita, karena kesuksesan juga sangat bergantung kepadanya, maka bagaimanakah cara untuk meraih ketenangan itu? Sebagian orang mencari ketenangan dengan perbuatan sia-sia, sebagian mereka bahkan mencari ketenangan di tempat-tempat kemaksiatan. Semua itu keliru dan fatal akibatnya. Alih-alih ketenangan, semua itu justru akan semakin membuat hati diliputi kesedihan. Jika pun ketenangan didapatkannya, namun ia adalah ketenangan yang palsu dan sesaat.
Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir al Syatsry –semoga Allah menjaganya- dalam kitabnya “Hayâtu al Qulûb” menyebutkan arahan-arahan yang terdapat dalam al Qur`an dan sunnah untuk meraih ketenangan tersebut:
  1. Berkumpul dalam rangka mencari ilmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:
« مَا اجتمعَ قَوم في بيت من بُيُوتِ الله تباركَ وتعالى يَتْلُونَ كتابَ الله عزَّ وجلَّ ، ويَتَدَارَسُونَهُ بينهم ، إِلا نزلت عليهم السكينةُ ، وَغَشِيَتْهم الرحمةُ ، وحَفَّتْهم الملائكة ، وذكرهم الله فيمن عنده »
“Tidaklah suatu kaum berkumpul sebuah rumah Allah tabaraka wa ta’ala, mereka membaca Kitabullah azza wa jalla, mempelajarinya sesama mereka, melainkan akan turun kepada mereka sakinah, rahmat akan meliputi mereka, para malaikan akan mengelilingi mereka dan Allah senantiasa menyebut-nyebut mereka dihadapan malaikan yang berada di sisi-Nya.” (HR Muslim no. 2699)
  1. Berdoa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah mengulang-ulang kalimat doa berikut dalam perang ahzab:
فَأَنْزِلَنَّ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا   وَثَبِّتِ الأَقْدَامِ إِنْ لَاقِينَا
“Maka turunkanlah ketenangan kepada kami
            Serta teguhkan lah kaki-kaki kami saat kami bertemu (musuh)”
Maka Allah memberikan mereka kemenangan dan meneguhkan mereka.
  1. Membaca al Qur`an.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ »
“Ia adalah ketenangan yang turun karena al Qur`an.” (HR Bukhari: 4839, Muslim: 795)
  1. Memperbanyak dzikrullah.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du [13]: 28)
  1. Bersikap wara’ (hati-hati) dari perkara syubhat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ
“Kebaikan itu adalah yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tentram kepadanya. Sementara dosa adalah yang jiwa meresa tidak tenang dan hati merasa tidak tentram kepadanya, walaupun orang-orang mememberimu fatwa (mejadikan untukmu keringanan).” (HR Ahmad no. 17894, dishahihkan al Albani dalam Shahîh al Jâmi no: 2881)
  1. Jujur dalam berkata dan berbuat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu keragu-raguan.” (HR Tirmidzi no: 2518)
Begitu pun semua ketaatan kepada Allah dan sikap senantiasa bersegera kepada amal shaleh adalah diantara faktor yang akan mendatangkan ketenangan kepada hati seorang mukmin. Jika kita selalu mendengar dan berusaha untuk mentaati Allah dan rasul-Nya, maka hati kita akan kian tenang dan teguh. Allah berfirman:
“…Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (QS. An Nisâ [4]: 68)
Saudaraku, jika kita dapat mempertahankan ketenangan hati sehingga senantiasa teguh berada dalam jalan Allah, apa pun yang terjadi kepada kita, maka bergembiralah, karena kelak saat kita meninggalkan dunia yang fana ini, akan ada yang berseru kepada kita dengan seruan ini:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]: 27-30) (Lihat Hayâtu al Qulûb: 90-91)
Wallâhu ‘alam, wa shallallâhu ‘alâ nabiyyinâ Muhammad.
[Meteri ilmiah dalam tulisan ini banyak diispirasi oleh Kitab Madâruju al Sâlikîn karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh, cet. Dâr al Thîbah dan Kitab Hayâtu al Qulûb cet. Dâr Kunûz Isybîliyâ karya Syaikhunâ Dr. Sa’ad bin Nâshir al Syatsry hafidzahullâh]
Riyadh, 27 Jumada Tsani 1433 H
Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc (Alumni Universitas Al Azhar Mesir dan da’i di Maktab Jaliyat Bathah Riyadh KSA)
Artikel Muslim.Or.Id


kesungguhan dalam keyakinan

^_^

Jumat, 12 Oktober 2012

kembali ku mengingatmu "Lelaki Kelakku"

Kenapa tiba tiba inget kamu ya "Lelaki Kelakku"

Ya semoga selalu diberikan yang terbaik, aamiin

Sabar, berdoa, ikhtiar, dan tawakkal

Senin, 08 Oktober 2012

,kangen,hiks :')

kangeeeeeeeeennnn
hiks

biarlah rasa itu - begitu adanya hhheee

:')

pindah-pindah

Prasaan 6 tahun terkahir ini hidup ku nomaden (-____-)'

pindah sana pindah sini
pindah sana pindah sini

Alhamdulillah ya Allah, banyak pelajaran kehidupan yang aku dapat
Tak ternilai,
Mohon sertai aku selalu bersamaMu Rabb

Minggu, 07 Oktober 2012

Zuhud dan Tawakal

 http://www.riwayat.web.id/2009/12/zuhud-dan-tawakal.html

Zuhud dan Tawakal

Diposkan oleh Riwayat Attubani
Pembelajaran Riwayat-Materi pembelajaran


A. ZUHUD

1. Pengertian Zuhud
Secara bahasa kata zuhud berasal dari bahasa Arab زَهَدَ – يَزْهَدُ-زُهْدً berarti “meninggalkan”.Orang yang zuhud disebut Zahid.
Menurut istilah zuhud didefenisikan dalam kalimat yang berbeda-beda namun tetap dalam arti yang sama.
a. berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi bersifat material dan kemawahan duniawi dengan mengharapkan sesuatu yang lebih baik dan bersifat spritual berupa kebahagiaan ukhrawi.
b. Menurut Imam al-Qusyairi Zuhud adalah tidak merasa bangga kemewahan dunia yang dimiliki dan tidak merasa sedih ketika kehilangan harta
c. Menurut Imam Gazali, Zuhud adalah mengurangi keinginan untuk menguasai kemewahan dunia sesuai dengan kadar kemampuannya
d. menurut Ali Bin abi Thaib zuhud berarti membatasi ambisi-ambisi duniawi, syukur setiap anugrah dan menghindari apa yang telah haramkan oleh Allah swt.
Dari pendapat diatas dapat diambil pengertian bahwa Zuhud berarti suatu sikap hidup dimana seseorang tidak terlalu mementingkan dunia dan harta kekayaan. Materi dan dunia ini hanya merupakan sarana dan alat untuk mencapai tujuan yang hakiki yaitu kehidupan akhirat
Dengan demikian zuhud tidak berarti membuang harta benda dan menolak apa yang dibolehkan akan tetapi zuhud berarti kita tidak boleh beranggapan bahwa apasaja yang kita miliki adalah lebih utama dari pada apa yang ada disisi Allah swt.

2. Dalil yang terkait dengan bersikap Zuhud
Firman Allah swt.:
وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلَى مَامَتَّعْنَا بِهِ اَزْوَاجًا مِّنهُمْ زَهْرَةً الْحَيَوةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَاَبْقَى (الطا هى : 131)
Artinya:
“Dan janganlah engkau tunjukkan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal”.(Qs.Thaha : 131)

3. Contoh perilaku Zuhud
a. Senantiasa mensyukuri ni’mat yang diberikan Allah swt.
b. Senantisa merasa cukup meskipun harta yang dimiliki sekedar untuk memenuhi kebutuhan.
c. Orang yang memiliki kemampuan untuk hidup mewah, tetapi mereka tidak mau, sebab mereka selalu membelajakan hartanya di jalan Allah swt. untuk mendaptkan keridhaan-Nya.
d. Tidak mencintai dunia secara berlebihan. Maksudnya adalah mencintai dunia sehingga melupakan cintanya kepada Allah swt dan Rasul-Nya.
e. Tidak meninggalkan kehidupan dunia secara total namun Menjadikan kehidupan dunia menjadi sarana yang menentukan kehidupan di akhirat.
Firman Allah swt.:
قُلْ مَتَاعُ الدُنْيَا قَلِيْلٌ وَاْلاَخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقى ( النساء:77)
Artinya:
“katakanlah kesenangan didunia ini hanya sebentar (sidikit) dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. an-Nisa’: 77).
4. Upaya untuk membiasakan sifat zuhud
Seseorang yang ingin memiliki sifat zuhud setidaknya ia harus:
a. Jangan menjadikan dunia sebagai`tujuan hidup, jadikanlah dunia sebagai sarana atau alat untuk mencapai tujuan hidup yang utama,karena kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang hakiki tetapi hanyalah kehidupan senda gurau dan sementara. Kehidupan dunia yang berlebih-lebihan dapat mengantarkan manusia ke dalam kebinasaan.
Firman Allah swt.:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَوةُ الدُّنْيَا اِلاَّ لَهْوٌ وَّلَعِبٌ وَاِنَّ الدَّارَ اْلاَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْكَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan perainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui’.(Qs.al-Ankabut : 64)
b. Menyadari tugas manusia di dunia sebagai kekhalihan di permukaan bumi, yang akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat. Dengan demikian kita akan selalu menjadikan dunia sebagai sarana untuk bebuat baik dan beribadah kepada Allah swt.
c. Selalu membiasakan diri untuk tidak meminta sesuatu yang berlebihan, menerima dengan lapang dada hasil dari apa yang diuasahakan.

B. TAWAKAL


1. Pengertian tawakal
Menurut bahasa berasal dari bahasa arab wakkala yang artinya menyerahkan atau mempercayakan.
Menurut istilah, tawakkal didefenisikan dalam kalimat yang berbeda-beda namun tetap dalam arti yang sama.
a. Menyerahkan segala perkara, ikhtiar dan usaha yang dilakukannya serta diri sepenuhnya untuk mendapat manfaat atau menolak mudharat dari Allah swt.
b. Berserah diri kepada kehendak Allah swt.dan percaya dengan sepenuh hati atas keputusan-Nya.
c. Membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah swt. dan menyerahkan keputusan segala sesuatu kepada-Nya.
d. Berserah diri kepada Allah swt dengan penuh keikhlasan baik dalam penderitaan, cobaan, maupun kebahagiaan.

2. Dalil tentang tawakkal
وَمَنْ يَّتَوَ كَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْئٍ قَدْرًا (الطلاق : 3)
Artinya :
“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS.At-Thalaq:3).
Hadist Nabi, artinya:

...لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا (رواه الترمذي)
Artinya:
“Jikalau kamu tawakal kepada Allah dan berserah diri sepenuhnya, maka kamu akan mendapat rizki seperti rizki burung-burung yang diwaktu pagi berada dalam keadaan lapar dan kembali sore dengan perut kenyang.”(HR.Turmuzi).

3. Tingkatan tawakkal
Berdasarkan tingkatannya tawakkal dibagi menjadi beberapa tingkatan, diantaranya adalah:
a. Tawakkalul wakil, artinya sesorang yang mempercayakan urusannya kepada sang wakil yaitu Allah swt. tawakkal seperti ini dilakukan oleh mukmin biasa.
b. Tawakkal Taslim, artinya seseorang ysng tidak membutuhkan sesuatu selain Allah swt. tingkatan tawakkal seperti ini adalah tawakkalnya para Nabi/Rasul.

4. Contoh perilaku tawakkal
a. Selalu mempersiapkan diri terhadap kemungkinan yang terjadi pada dirinya. seperti bersyukur apabila mendapat karunia ,jika tidak ia akan bersabar.
b. Tenang dalam menjalankan kehidupan, tidak pernah berkeluh resah dan gelisah.
c. Selalu giat bekerja dan ikhtiar, karena ia berprinsip bahwa langit tidak akan pernah menurunkan hujan emas dan perak.
d. Selalu giat berdo’a kepada Allah
e. Menerima segala ketentuan Allah swt. dengan ridho terhadap dirinya dan keadaannya.
f. Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

5. Membiasakan diri berperilaku tawakal.
a. Membaca sejarah para Nabi dan Rasul Allah swt.sebagai suri tauladan dalam kehidupan kita. Seperti kesabaran Nabi Ayyub as. Dari cobaan yang ditimpakan kepadanya dll.
b. Selalu giat bekerja, ikhtiar dan berdo’a.
c. Melatih kesabaran dengan memperbanyak ibadah sunah sesudah ibadah wajib.
d. Selalu memiliki sifat optimis dan tidak putus asa, dengan prinsip hidup tidak datu jalan keroma.

Kesimpulan
1. Zuhud dan tawakkal termasuk sifat yang terpuji.
2. Zuhud adalah mengurangi keinginan untuk menguasai kemewahan dunia sesuai dengan kadar kemampuannya
3. Tawakkal adalah Berserah diri kepada kehendak Allah swt.dan percaya dengan sepenuh hati atas keputusan-Nya.

Sabtu, 06 Oktober 2012

perjalanan hidup by dpas4

Perjalananku terasa melelahkan 
kududuk bertahan sendiri disini
hidup adalah sebuah perjalanan
Selalu banyak rintangan yang ku hadapi

Perjalanan ini bagaikan roda berputar
suka dan duka terus dijalani
ku berjalan untuk hidup 
selalu bersabar
kini kumengerti arti hidup ini

kuterus tersenyum
walaupun kegagalan
hidup di bumi sebuah perjuangan
kuakan pelajari dari kegagalan
dan tak putus asa

Jumat, 05 Oktober 2012

Selasa, 02 Oktober 2012

...Ridho Nya...

Berjalan sebagaimana ada nya dalam hidup dan kehidupan

Berdzikir,
Pautkan hanya padaNya, semoga DIA senantiasa menuntun dalam berfikir

Tulus,
Pautkan semua karenaNya, semoga DIA senantiasa meRidhoi  gerak langkah lampah ini

|tuangkanrenung|